
Bagaimana aku masih bisa makan hari ini adalah misteri, lebih-lebih lagi anak dan istriku masih bisa makan. Terkadang memberi makan juga ke orang lain, tak lupa aku menerima makanan dari orang lain juga. Semua punya rejekinya masing-masing, dan lapar adalah juga sebuah rejeki yang tak perlu dihujat.

Kutuliskan tulisan ini setelah sejam melihat Dagestan gara-gara ada video sliwer tentang Khabib, si petarung muslim itu. Keyakinannya kuat, bentukan budaya dan kebiasaan. Conor McGregor sambil minum Whiskey dan Khabib mengucapkan Alhamdulillah, terjadi dalam 1 frame kehidupan. Ada keyakinan kuat bagi yang tak takut apapun selain Allah. Lapar pun tak takut, semestinya.

Makanan begitu beragamnya, sampai bingung memilihnya di Saung Pak Ewok. Dari makan ke makan, beberapa hari terasa berlalu seperti ini. Makan sebagai budaya dan kebiasaan, tak menghiraukan sedang lapar atau tidak.
Kembali ke pertanyaan awal, bisa makan adalah sebuah rezeki yang patut disyukuri, setara dengan bisa eek juga. Terlalu banyak nikmat untuk diinventarisasi, dihitung, dan disyukuri. Kok bisa ya aku masih makan dan memakani semesta di sekeliling? Ah, bukan aku. Laa haula wa laa quwatta illa bi ….., titik-titik sebagai pemantik renung kita. Segala kekuatan dan kemungkinan di dunia ini dari siapa? Tiap orang bisa beda jawabnya, tapi yang tak takut dengan dunia ini, semua mengarah ke Sang Maha Gaib.
Bogor, 9 Juli 2025
Nihan Lanisy
Leave a Reply