

Berangkat dari Bogor jam 4.20, sampai di Banjaran jam 7 pagi. Kepagian untuk janji temu jam 10 di Gunung Puntang. Dari salah satu Indomaret di Banjaran, saya mapskan ke “Gunung Puntang”.
Jalannya sepi sekali, agak sangsi kalau ini jalan utamanya. Masih berbaik sangka kalau itu jalan alternatif, sampai setelah 20 menit berkendara jalannya jadi kecil sekali. Jalan beton yang mepet sekali untuk ban Agya kami. Untung ada 1 cewe lagi jalan turun.
“Gunung Puntang bener kesini ya teh?”, tanya saya. Betul katanya. Kami lanjutkan. Tapi kok ada rombongan 4 motor yang puter balik. ” Kang, ini bener Gunung Puntang ya?”, tanya saya lagi. Mereka tidak tau. Saya masih lanjutkan dengan keraguan yang besar, ah pas berpapasan dengan seorang warga yang bawa kronjot, sehingga kami harus atur posisi supaya keduanya tidak nyungsup ke tanah-tanah disamping jalan beton itu. “Pak, ini bener Gunung Puntang?”, tanya saya kesekian kalinya. “Ini bener Gunung Puntang tapi diatas cuma kebon mas. Yang tempat wisata lewatnya Cimaung”. ALAMAK, kami berada di sisi gunung yang berbeda. Untung didepan situ ada sedikit pekarangan warga yang bisa pas buat kami putar balik.

Dari titik itu ke Gunung Puntang yang kami tuju tertulis di Gmaps selama 1jam5menit. Alhamdulillah, jadi tau Desa Mekarjaya, Kec. Arjasari. Uadohe haha. Adakah kalian warga situ atau punya teman di daerah situ?
Kami menekuni jalan kembali, sampai hampir alun-alun Banjaran dan kami disuruh belok kiri. Ada tulisannya “Ciapus” yg saya ingat. Jalan agak sempit tapi ramai. Ini bener deh kayaknya. Terus semakin jalan itu ditekuni semakin desa dan semakin-makin. Padahal kata Cici, teman kami yang janjian ketemu di TKP, jalannya aspal bisa papasan dua mobil sampai lokasinya. Kami masih berbaik sangka, sampai akhirnya setelah 1 jam berbaiksangka (lelah hayati) kami ketemu jalan aspal yang dimaksud. Kami blusukan lagi, kedua kalinya hari itu. Selama 1 jam kurang lebih.

Sampai di Puntang, kami tidak membayar karena ada janji temu dengan pengelola, sebuah hal yang patut disyukuri karena kalau membayar sepertinya sekitar 100k++. Ditambah lagi masuk ke area Nagara Puntang, yang ada reruntuhan radio Malabar dan Berg Coffee-nya Anji, tidak membayar karena menjadi rangkaian “jadi tamu”. Aslinya masuk area radio Malabar bayar 10k/orang. Tapi tatapan akang penjaga tiket melihat saya pakai boxer dan jadi ” tamu” sepertinya menyiratkan kebingungan hehe.

Banyak orang trekking, banyak orang camping, banyak orang parkir, banyak orang makan, banyak orang ngapa-ngapain disana. Ada yang menarik ketika saya melihat (mungkin) mayoritas pengunjung bertujuan datang ke Berg Coffee / area Nagara Puntang. Wisata adventure dengan pakaian necis dan ala skena, saya amati sungainya pun tak seramai coffee shopnya. Kopi memang jadi magnet untuk banyak orang, kecuali kami yang cuma duduk-duduk dari jauh memandangi orang yang jauh-jauh ngopi untuk difoto dan diunggah hihi #sikap

Kalau mau ke Gunung Puntang, mapsnya diarahkan kesini “Berg Puntang” di Google Maps, ngops ngops cantik kita.

Terimakasih Pak Menir dan tim di Gunung Puntang yang sudah menerima kami. Supersuwun Cici yang sudah ajak-ajak. Kami pamit untuk kembali ke habitat dengan udara penuh polusi yang sebenernya penyebabnya kami sendiri juga hehe Sadarlah wahai manusia. Alam terkembang menjadi guru, tapi sekolahnya lagi tutup. Pitikih.
Bogor, 19 Juli 2025
Nihan Lanisy
Leave a Reply