
Merubah diri kita sendiri jauh lebih mudah dari pada merubah orang lain. Merubah respon kita jauh lebih mungkin dari pada memaksa orang merespon sesuatu sesuai ingin kita.
Sejauh ini, walaupun belum terlalu jauh, kita dijauhkan dari berdaya. Misalpun kesehatan. Untuk sehat harus ke rumah sakit, minum obat, dan lainnya. Padahal jauh sebelum ada obat dan rumah sakit, orang bisa sehat. Dimana letak sehat? Di dalam diri kita sendiri dengan karuniaNya. Niat dan tindak tanduk serta tunduk tawaduk. Nasi uduk, tambahin satu deh biar ada rimanya.
Melahirkan adalah hal natural bagi seorang ibu. Menyusui pun hal yang sama, glandula mamae. Melestarikan anak juga, suatu hal yang instingtif dan berbeda-beda dari rumah ke rumah. Semuanya tidak perlu les dan pelatihan, saat kita merasa di dalam diri kita ada jawabannya.
Hati nurani memang sudah sedemikian digerus seiring dengan kontemporernya dunia. Sangat logis dan matematis. Tak semua sisi hidup bisa dihitung dengan sempoa. Komputer, to compute, bingung juga mengikuti zaman yang majunya raono entek-entek e. Kita senang sekali bergelut dengan banyak hal yang artifisial, sampai-sampai sekarang kecerdasan artifisial ada dimana-mana. Ilmu medan tanya penduduk ataupun kearifan lokal, yang memang kadang perlu disesuaikan agar relevan dengan jaman, seperti tak punya tempat lagi di dunia yang goyang. Horeg.
Senantiasa kita kira future itu di depan, beberapa sudah terbukti malah kebelakang. Menilik ulang sejarah dan siapa kita, jika saya bilang hai, kamu bilang halo ya. Semangat pagi. #motivator
Dalam berpikir, kita boleh memiliki keluwesan. Dalam merasa, kita boleh memiliki fleksibilitas. Dalam bertindak, kita boleh memiliki daya lenting. Terlalu banyak hal di dunia ini untuk dikeluhkan, dan tidak terjadi apa-apa kecuali hanya lelah. Kebiasaan manusia buang-buang energi, tak disadari dan tak diamini. Matikan lampu saat tidak dipakai.
Filosofi bisa menghadirkan percabangan yang akut. Merubah dunia, bagi segelintir adalah melakukan hal-hal dan menyelesaikan sesuatu. Sedangkan segelintir lain merasa merubah dunia hanya tinggal berdoa saja, sebab yang merubah bukan manusia. Segelintir ditengah-tengah dengan tingkat keseimbangan yang berbeda-beda melakukan keduanya. Hadir pengatur, to govern, dengan filosofi yang berada di rentang berikut, dengan perubahan-perubahan yang senantiasa tak bisa dihindari. Mengelola dunia ini cape dan repot, gulma dipangkasi dan rumput liar dianggap mengganggu, padahal ingin berkontribusi juga. Menyisakan gelombang cinta yang lelah sebab harus tampak sempurna.
Kesimpulannya, tidak ada. Belum jadi simpul, masih tali yang lurus, mengecil lama-lama jadi setipis rambut dan diseberangi bagi yang bisa menyeberang.
Empat kali empat sama dengan enam belas. Sempat tak sempat, ha mbok disempatke. Saya tidak bisa bahasa jepang, tapi benarkah ikitai adalah mambu dan takasimura adalah diskon? Mohon pencerahannya, matahari.
Bogor, 21 Juli 2025
Nihan Lanisy
Leave a Reply