Peyek

Kenapa peyek sering jadi sandaran saudara-saudara kita yang sedang membutuhkan ya?

Ada 2 penjual peyek yang sering datang ke rumah: Pak Andi dan Bu Peyek (saya gatau namanya). Dari rona wajahnya, setiap ke rumah terasa ingin sekali dibeli dan agak banyak. Namanya pedagang pasti begitu ya, tapi ini lain. Kadang saking kami sering beli jadi seperti bersandar pada kami untuk dilarisi.

Tapi disisi lain jadi pengingat multidimensi. Bisa jadi suatu hari saya, atau kamu yang baca, ada di posisi penjual peyek tersebut. Sangat mungkin, tak ada yang tak mungkin dihadapanNya. Mumpung sekarang tidak disitu, sebisa mungkin kita harus membantu. Bukan karena supaya tidak ditukar posisinya dengan penjual peyek, namun karena memang sudah seharusnya membantu.

Islam, dalam pemahaman saya, bukan menjanjikan dunia yang bergelimang. Tapi sebuah prinsip dan sikap yang membuat kita bisa menghadapi dunia, entah bagaimanapun bentuk dan skenarionya. Sebuah modal awal yang kuat, meskipun bentuknya bukan uang kapital.

Apa memang kalau kita sedikit diberi rejeki, akan ada yang menyandar kepada kita? Atau memang manusia itu sebagai distributor produknya Allah saja, dimana yang dikatakan “lebih” adalah orang yang punya tanggungjawab lebih juga untuk membagi-bagikanya?

Bersihkan hatiku ya Allah, tunjukkan jawabannya. Semua pertanyaan ini sangat privat untukMu tapi kubagikan disini supaya mungkin ada yang mau sama-sama memikirkan hal ini dan barangkali bermanfaat. Jika yang ada cuma mudharat, aku minta maaf, kepada yang gaib atau pembaca non-gaibku.

Hanya padaMu aku mohon pertolongan, dalam Al-Fatihah ayat ke 5.

Bogor, 27 Juli 2025
Nihan Lanisy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *