Istriku lagi ikut pelatihan STIFIn, itu tes yang menggunakan sidik jari untuk mengetahui karakter seseorang. Tidak 100% benar tapi bisa jadi patokan. Istri juga bilang kalau banyak orang di psikologi bilang ini pseudoscience. Saya sih udah biasa, wong yang saya lakukan kebanyakan pseudo hehe.
Saya juga belajar memahami, saya ikut dengerin zoomnya sesekali. Saya ikut didongengi sama istri juga dan diskusi dikit-dikit. Namanya ilmu itu sebenernya gratis dimanapun, yang bayar itu: bayar trainernya, sewa ruangnya, konsumsinya, beli bukunya, dll. #prinsip
Kata istri saya, saya kalau dites kemungkinan masuk ke kategori yang In yaitu Insting. STIFIn itu singkatan dari Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling, dan Insting. Ini seperti payung besarnya, nanti kalau belajar teorinya jadi ribet deh pokoknya melihat kombinasinya dengan introvert/extrovert dsb dsb.
Contoh riilnya gini, kalau ada orang minta-minta di depan rumah, bisa tuh saya kasih 200ribu tiba-tiba kalau saya pas punya uang lebih. Kalau istri saya gabisa, paling dikasi 2-10k atau malah gadikasih kadang-kadang. Dorongan-dorongan ini bisa dijelaskan dengan memahami STIFIn ini.
Saat menulis ini, saya sebetulnya lagi agak cape karena selalu banyak berperan dimana-mana. Dorongan alami yang saya tidak bisa pahami. Seperti aneh saja kalau misal ada orang butuh dibantu tapi saya tidak membantunya, dalam konteks ketika memang saya dalam keluangan waktu dll ya. Sepertinya saya ingin selalu semua orang bahagia, sehingga kebebasan mutlak untuk semua orang. Tidak bolek memaksa, yang ada dalam ideal saya adalah kesadaran masing-masing orang. Ini adalah sifat-sifat orang Insting. Sekali lagi, saya belum pernah tes tapi sedang diduga-duga saja karena sifatnya mirip sekali dengan yang dijelaskan. Orang Insting punya indra ketujuh kalau di PPT yang saya baca, terus orang jenis ini yang paling sedikit katanya. Semuanya katanya ya, saya bukan peserta pelatihan, jadi jangan percaya-percaya amat sama tulisan saya ini.
Istri saya masuk ke Thinking. Uang 2000 aja bisa kepikiran, kalau kembaliannya belum dikasih misalnya. Terus sering pakai angka yang eksak dalam bicara: Sudah jam 8.57. 3 Menit lagi jam 9. Dalam melakukan sesuatu dipikir dulu, sampai kadang-kadang malah tidak dilakukan.
Kami ternyata agak bertolak belakang. Tapi itulah berkahnya, perbedaan yang indah untuk saling melengkapi dan memahami. Saya cukup senang dengan ilmu STIFIn ini, karena setelah mempelajarinya jadi ada pembahasan dalam keluarga kecil kami. Manajemen keluarga seperti apa yang harus dilakukan supaya supersamavva.
Berkeluarga itu intinya komunikasi, kalau gabisa ngomong ya WA, kalau gabisa ya email. Berkeluarga itu sengaja memasukan diri pada masalah-masalah baru yang harus dihadapi untuk bisa saling tumbuh. Berkeluarga itu tentu banyak suka dan saling berbagi luka, karena keluarga adalah miniatur dari dunia yang luas diluar sana. Berkeluarga adalah tentang niat supaya semuanya bisa jadi bahagia, bukan hanya aku saja yang bahagia.
Untuk teman-temanku yang punya masalah di keluarganya, aku doakan semoga senantiasa menemukan solusinya. Perlahan, sebab semuanya adalah proses. Surga ada di akhirat, begitu pula di dunia ini kita bisa merasakan surga jika kita mau. Merasakan surga tanpa membuat orang lain merasakan neraka. Surga untuk kita semua. Air mengalir seperti susu, awas ada Cimory nanti malah ngapling sungai untuk dikemas sebagai minuman warga surga hihi
Jika surga adalah nirvana, bayi yang renang di kolam renang itu udah segede apa ya sekarang. Anaknya dicemplungin di kolam renang lagi ga ya?
Bogor, 24 Agustus 2025
Nihan Lanisy
Leave a Reply