Privet

Alhamdulillah, siang ini akhirnya submit dokumen-dokumen untuk mendaftar kuliah di Rusia. Lolos ga lolos sudah siap-siap diterima, iseng-iseng berhadiah saja.

Tapi gara-gara mendaftar ini, ada 1 yang saya syukuri. Saya jadi terpaksa belajar tentang rusia yang ditulis dalam bahasa russia dengan huruf cyrillic-nya yaiu pyccиa. Ada banyak hal yang dipelajari bahkan sebelum saya submit.

Pertama, geografi Rusia. Saya baru tau kalau Rusia adalah negara terbesar di dunia, bayangin aja zona waktunya aja dari barat ke timur bisa beda 10jam (UTC+2 sd UTC+12). Lebar bener ya negaranya. Ini saya kasih liat bagaimana saya bikin data tentang kota-kotanya, saya bocorin nih.

yang merah-merah itu zona perang, perbatasan dengan ukraina

Geografi penting untuk mengetahui kotanya. Dilihat dari suhu rata-ratanya tiap bulan, mengingat ada yang -71derajat kalau pas winter di Yakutia, daerah Siberia sana, padahal pas summer juga indah banget suhunya sampai 30derajat celcius. Menarik ya.

Seluruh pendaftaran beasiswa ini ada di web education-in-russia.com , lengkap banget panduannya dan menurut saya dokumen-dokumennya mudah untuk dilengkapi. Yang agak repot cuma tes kesehatan (perlu bukti negatif TBC, Hepatitis A&C, serta HIV). kemarin tes dibayarin kantor di RS Brawijaya Depok seharga 3jutaan, kalau di RSUD Tangsel katanya sekitar 900ribuan. Pilihannya banyak, tapi kalau yang pakai uang pribadi perlu nabung ya. Terus, harus punya paspor karena identitas yang dipakai adalah nomer paspor. Jadi tambah lagi 300-500k bagi yang belum punya paspor. Kalau punya keinginan dan cita-cita emang harus pelan-pelan, dicicil modalnya dikit-dikit.

Kembali ke Geografi, saya awalanya cuma tau Moscow dan St Petersburg, dua kota terbesarnya Rusia. Terus pas ketemu temen yang pernah kuliah disana jadi tau Kazan, mayoritasnya muslim – namanya republik Tatarstan. Jadi Rusia itu ternyata mirip Indonesia yang beragam banget suku dan budayanya. Semakin ke timur, semakin Asia. Mukanya mirip orang mongol. Sampai-sampai saya inget kalau ada Dagestan tempatnya Bos Khabib UFC, sayangnya kampusnya ga muncul di yang saya inginkan, adanya deket-deket situ di Grozny Checenya, tempat yang katanya pernah jadi “gaza”-nya Rusia dulu. Banyak sejarahnya ternyata Rusia ini, lha gimana engga kampusnya aja ada yang didirikan pada 1700 dan 1800-an. Pokoknya saya belajar geografi+sejarah banyak sekali gara-gara ini

Apa menariknya beasiswa ini? Ndak perlu IELTS/TOEFL. Nanti kalau lolos, setahun pertama disana kursus bahasa dulu yang disebut podfak (kalo gasalah nulisnya gini). Terus kalau yang S3, menurut video dari Persatuan Mahasiswa Rusia (Permira), ada tes bahasa asing (boleh pilih Inggris, German, dll, tergantung kampus juga mungkin).

Nah, selain geografi, saya jadi belajar juga huruf cyrillic dan bahasa rusia. Ini agak menantang karena ada beberapa huruf latin yang dibacanya beda disana. B dalam rusia dibaca V. H dibaca n. Y dibaca U. dst. Terus ada huruf-huruf macam Yunani dan beberapa huruf yang unik. Tapi kalau kita pernah belajar bahasa arab sebetulnya pasti bisa, asalkan sering dipake dan diterapkan aja. Sama kok, ada S, Sy, Sh, dll. Bahasa itu emang harus sering digunakan pasti bisa, karena ia adalah cerminan budaya. Makanya jangan pada diem-diem bae napa, ngobrol atuh.

Ada 1 yang menarik dan bisa ditiru pemerintah Indonesia dalam proses seleksi ini. Saat submit, dokumen kita dicek tim Russian House (seperti pusat kebudayaan rusia di Indonesia). Kalau ada yang kurang atau salah, dikasih comment dan kita disuruh revisi. Ini sangat berbeda sama pendanaan penelitian dan pkm BIMA yang besok ditutup ini. Banyak sekali proposal bagus yang gugur gara-gara administrasi, bahkan tanda baca pemisah keywords yang salah. Harusnya ; malah pakai , otomatis gugur. Kenapa ya negara kita ini suka banget model-model penjajahan dan ga penting begini? Perubahan dimulai dari diri kita dulu yuk, baru secara kolektif berubah, pelan-pelan entah kapan.

Namun saya sadar, bahwasanya usaha Pemerintah Rusia meningkatkan mahasiswa asing di negaranya adalah sebuah usaha jangka panjang. Sebuah negara memberi beasiswa pada seseorang dari luar negaranya sebetulnya punya misi. Misi budaya, misi jejaring, misi lainnya. Dan saya baru sadar bahwasanya selama ini saya selalu mencari English speaking countries, salah satunya hanya karena malas belajar bahasanya. Padahal pasti ada banyak ilmuan dan ilmu yang tersimpan dan jadi rahasia di negara-negara yang bahasanya kita tidak tau. Ini hipotesis saya.

Tuh kan, saya belum lolos aja udah cerita-cerita tentang Rusia. Gimana kalau nanti kuliah disana 4 taun? Udah jadi agen kebudayaannya di Indonesia pasti hihi. Manusiawi.

tau klub ini gara-gara kiper PSG yang nepis 4 pinalti kemarin dari sini asalnya. klub ini peringkat 1 skg di BRI Liga 1-nya Rusia. cool.

Salah satu pertimbangan memilih tempat kuliah, bagi saya adalah klub sepak bolanya. Ya untuk hiburan saja, apalagi kalau bisa bawa anak lanang yang senang bola. Atau barangkali malah anak saya besok bisa ikut klub bolanya dan jadi Mbappe selanjutnya hehe. Ngimpi boleh kan ya.

Untuk menutup, saya agak lama dalam memilih 6 kampus yang disuruh di aplikasinya. Mengapa? Karena saya pingin tau apakah ada departemen pariwisata di kampus tersebut serta saya ingin tau kota-kotanya seperti apa. Moscow dan St Petersburg tidak saya masukan dalam pilihan, karena dua kota itu sangat mainstream. Saya membayangkan tinggal di Jakarta adalah sebuah ketidakinginan, dengan mahal dan padatnya kota. Saya lebih ingin tinggal di Jogja dengan penduduk 400ribuan atau Salatiga atau Klaten atau Ambon dsb. Akhirnya saya menemukan beberapa kota yang mungkin pas bagi keinginan saya. Dan saya berkenalan dengan beberapa kota yang jumlah penduduknya mirip Kota Bogor sekitar 1jutaan yaitu Ekaterinburg dan Vladivostok. Selain itu ada kota-kota lain yang cukup menarik Tvar, Khabarovsk, Stavropol, dan Ulyanovsk. Sebetulnya pingin juga kuliah di Rostov-on-Don, Belgorod atau Sevastopol (Crimea), sayangnya daerah perang. Tapi coba tonton video di bawah ini, menarik juga untuk mengetahui hidup di kota-kota perang.

Dah kepanjangan, bobo dulu. Biar bisa mimpi lagi.

Bogor, 4 Januari 2025
Nihan Lanisy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *