venezuela

foto oleh bintorobagas.com

kesederhanaan is my middle name, maybe.

betapa bungah hati ini, diajak seorang sahabat ke sebuah kedai, lebih mirip pengungsian atau suaka, di bilangan kota baru jogja. di jalan tersebut berjejer tempat ngopi fancy: sebut saja TUKU sebagai salah satunya. Namun, selisih 3-4 rumah dari TUKU ada sebuah kedai yang sudah lama saya cari-cari. seperti pulang ke rumah, ke habitat, ke ekosistem, dan ke kasunyatan dan kesejatian.

Kopinya ya kapal api, tehnya biasa ada di toko-toko, tahunya ya tahu biasa aja, ayamnya rumahan, eskrimnya pabrikan, tikernya mudah dicari, galvalumnya standar, parkirannya tanah, dll. Semua ini membangun sebuah tempat yang disebut Om Sune sebagai “markas mafia”.

Tempat ini semulanya adalah rumah, bukan rumah kosong, ia ditempati oleh keluarga yang menghuni. Namun baru 8 tahun belakangan membuka dirinya menjadi warung. Saya sangat paham, karena SMA saya dan Om Sune ada pas disebelahnya. Perasaan dulu gaada warung deh, pikir kami.

Jadi dulu, masa-masa SMAku pernah diwarnai warung seperti ini. Letaknya dekat Stasiun Lempuyangan. Ada warung yang jadi langganan orang-orang jalan: tukang becak, pengamen, debt collector, dll. Warungnya gerah dan kecil serta seadanya. Kami menamainya “Kuba” atau lengkapnya “Pengungsuan Kuba”. Sepertinya semua yang makan disana seperti sedang mencari suaka dari kerasnya dunia. Kami anak-anak SMA waktu itu, dunia belum keras-keras amat sih hehe.

Warung “markas mafia” ini sebetulnya punya nama. Tenda Biru. Saat siang hari, tiba-tiba warung akan penuh digrudug tukang-tukang yang sedang membangun proyek sekolah Stella Duce. Rame banget, sambil makan main hape dan leyeh-leyeh. Mereka sepertinya lelah sampai-sampai tidak ngobrol, ngobrolpun lelah.

Namun, aku mengajukan nama lain dari warung itu. Bukan mengejek, namun cara saya (atau kami) menyayangi suatu tempat adalah dengan memberinya parapan/sebutan.

Kusebut ia warung Venezuela. Ada hubungannya dengan Kuba, namun lebih kekinian.

спасибо Venezuela sudah menjadi suaka kami yang sebetulnya bisa beli di Tuku ataupun Starbucks, tapi kami rasa hidup itu pilihan. Dan kesederhaan hidup dalam kasunyatan disparitas dunia ini, mungkin adalah pilihan kami. Amin.

Yogyakarta, 28 Juni 2026

Nihan Lanisy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *