ada kue basah, ada kue kering. ada yang basah dan kering juga dalam banyak sisi dan sudut hidup makhlukNya.
sebuah tembok mengelilingi rumah seseorang, aku baru lihat. aku tanya kenapa itu ditembok dan siapa yang menembok? rumah disebelahnya kotor dan berisik sekali, yang menombok justru orang yang merasa terganggu. jika dilogika, rugi. sudah kita rugi karena terkotori dan terberisiki, masih rugi nembok lagi. tapi apakah hitungan untung rugi hanya seperti itu? no.
perdagangan terbaik adalah dengan Allah. dimana untung dan rugi bukan zero-sum-game dan tidak dalam kurensi yang formal dan bisa diperhitungkan. saat waktu itu tiba, lepaslah semua angka dan hitungan. cara menghitungnya dan yang diperhitungkan berbeda. neraca dan laporan laba-ruginya punya variabel yang beda-beda.
rumah yang kami tinggali akhir-akhir ini lagi asyik sama listrik. sebelumnya, pohon tetangga rubuh dan merusak listrik beberapa rumah termasuk rumah kami. sang empunya pohon tidak mau tanggung jawab, akhirnya kami yang jawab dengan menanggung beban biayanya.
kasus kedua, ada kabel listrik tetangga, di rumah yang lain dari cerita di atas, melintang di atas teras kami. menyebabkan rembes di salah satu tembok dan muncul kekhawatiran jika nanti kabelnya ada bocor listriknya bisa membahayakan siapapun yang berdiri di teras tersebut. saya berinisiatif untuk mengobrolkan hal tersebut dengan tetangga, saya pula yang diminta menghubungi PLN dan saya pula yang harus menanggung biaya pemindahannya. kali ini saya emosi, badan saya panas dan ada aliran aneh yang mengalir. semalam saya mencoba memahami fenomena ini.
bukan, tulisan ini bukan untuk mendiskreditkan tetangga saya. baca paragraf perdagangan diatas: saya sedang belajar berdagang dengan tuhanku. jika di logika, listriknya punya tetangga, terasnya punya saya, sulit deh kalo di logika. namun satu hal yang pasti, tepat setelah obrolan itu terjadi, ada masuk uang direkening BCAku sejumlah untuk memindahkan listrik itu.
rasanya hidup nyaman sekali, kalau semua uang yang masuk itu dianggap bukan milikku. bisa jadi milik istriku, milik anakku, milik tetanggaku, milik orang tak mampu, milik kucingku, milik siapapun. aku tak memiliki apapun, bahkan badan dan jiwaku ini milik tuhanku. pikiran dan logikaku juga milikNya, semuanya bukan milikku.
sumber dari aliran darah dan energi aneh semalaman itu ternyata adalah kepemilikan. saya masih terkungkung dalam keakuan hidup. seketika, alam semesta seperti membalik tangannya, jiwa terasa terbebas dan menjadi ikhlas.
seandainya tetangga-tetanggaku membaca ini, semoga semua sehat dan lancar rejekinya. tentu kejadian seperti itu membuatku ke ujian baru lagi: belajar memaafkan tetangga yang di dalam persepsiku menyebalkan. sekali lagi, semoga tulisan-tulisan ini jadi arsipku dan bisa jadi pelajaran bagi siapapun yang lagi membutuhkan. dan barangkali ini juga merembet, bahwa sebetulnya tetanggaku juga sebal sama aku, atau aku bahkan menyebalkan juga ke tetangga lainnya. who knows.
aku baru hidup 33 tahun, tampaknya tak elok dan tak enak dengan para pembaca yang sudah lebih makan asam garam dengan tetek bengek dunia ini, namun yang bisa kurumuskan sampai sejauh ini: segala rejeki milik Allah. semakin tidak merasa memiliki semua rejekinya, hati dan jiwa tidak terikat. Allah maha adil, rejeki yang bukan milik kita takkan sampai, rejeki yang hak kita bahkan sampai sulit sekali menolaknya. Barakallah. kadang takut menuliskan tulisan seperti ini, karena takut pembaca mensalahpahami bahwa saya sedang sombong. bukan, saya sedang menyombongkan tuhan saya dan kamu, yang memegang kendali atas apapun. bahkan dalam kapasitas saya dalam menulis ini. Allahuakbar.
pondok cabe, 6 april 2026
nihan lanisy
Leave a Reply