cerapah

assalamualaikum. tak terasa sudah puasa hari ketiga. di sore yang mendung dan gerimis ini, izinkan saya untuk menuliskan pengingat bagi diri dan bagi yang mau.

kalau dipikir-pikir, tuhan itu abstrak. dimana adanya, kita tak tau. terasa jauh, namun juga terasa dekat. kok mau-maunya disuruh puasa sih?

nah ini, kalau kita logika terlalu menjorok ke depan dan membuat kita offside kalo bal-bal-an, mungkin pertanyaan itu yang akan muncul. sulit dijelaskan, sulit dibuktikan, sulit diilmiahkan, sulit dibuat empirik, dsb. kalau semua cuma pakai pikir, selesai sudah. gaperlu puasa, lha yang nyuruh-nyuruh aja ga ada (ga keliatan atau tidak hadir).

justru, disitulah letak keimanan. percaya. kita percaya, sebagai muslim, dengan apa yang dituntunkan pembawa pesannya yaitu Rasulullah Muhammad SAW. kalau semua mau didebat dan didiskusikan secara logika bisa-bisa saja, ini mungkin juga yang dilakukan di sekolah-sekolah teologi atau sekolah agama. sebagai muslim, saya sendiri kadang juga lupa bahwa semua yang kita lakukan ada tuntunan dari nabi muhammad, sebab tuhan memberi pesan lewat manusia yang kemudian meneruskan pesan-pesannya.

puasa adalah salah satu rukun islam, seperti yang disampaikan Nabi Muhammad. Beliau bukan hanya menyuruh, namun juga melakukan dan mencontohkan caranya. Toh ada beda-beda cara pemahamannya setelah ribuan tahun kita hidup sekarang, tentu sesuatu yang sangat pasti, setelah diturun-temurunkan tentu ada distorsi, asimilasi, dan beberapa perbedaan cara pandang penafsiran. sah-sah saja dan ok saja, full senyum.

mohon maaf sebelumnya saya bukan ahli agama, maksudnya dalam hal teori dan penafsiran, namun saya 33 tahun terakhir merupakan pemeluk dan pelaksana agama ini. jadi kalau nulisnya agak sok tau mohon maklum, ini bagian dari yang saya jalani dan rasakan.

pada akhirnya, bukan seberapa kaya dan berlimang harta yang penting, namun seberapa manut kita dengan perintah allah seperti menegakan kebaikan dan meninggalkan keburukan, sebuah pilihan yang bisa ditempuh manusia namun dengan ujian-ujian yang membuat semua ini menjadi sulit dalam hidup fana ini. semoga sebelum kita semua berpulang, masih disempatkan untuk bertaubat dan mejadi seseorang yang ingat bahwa didalam raga dan segala peragaan dunia ini, sesungguhnya yang hidup adalah jiwa kita yang tak bisa diraba dan goib. bahwasanya ini semua hanya senda gurau yang kadang terlalu kita seriusi dan mampir ngombe yang kita terlampau ngelak.

Sugeng berproses dalam menghayati agama ini. Sehat berkah untuk semua. bagi saya berislam adalah menjadi sangat poetic, dimana daun bergoyang dan angin bertiup pun membuat kita mengingat tuhan, dimana ada juga sisi mengingat bahwa kita ini bukan siapa-siapa di dunia ini. serta diantara potensi untuk bisa jadi tidak baik, kita memilih untuk baik untuk diri, orang lain, lingkungan, dan apapun. puitis.

Jogja, 20 Februari 2026
Nihan Lanisy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *