
Terlalu banyak informasi malam itu, dengan kepadatan laugh per minute yang tinggi, sampai pipi pegal tertawa dan energi lelah terasa. Obrolan sampai harus ada moderatornya yang mengingatkan bawah ada kalanya serius.

Hujan turun deras sekali di Jalan Sabang, tidak sampai Jalan Merauke tapi. Banyak sekali pedagang berjejeran, mencari rezeki dari rasa lapar dan kerakusan manusia. Di kafe itu, aku hanya bisa duduk di terasnya, ndak boleh masuk sebab No Pets Allowed. Aku adalah pets. Berandai-andai, jika aku buat rumah sakit untuk hewan tentu slogannya adalah “memanusiakan hewan”.

Kisah nabi pun tak urung dibicarakan, terlebih seorang diantara kami sedang menyusun agama baru. Tapi kurang firm dalam prinsipnya dan ketika dikritisi malah tidak jadi dibuat agamanya, urung jadi nabi. Abu Lahap, mangane ndemenake. Seorang tiba-tiba berdiri sambil pegang hape dan berkata, “aku mau meeting dulu”. Ah, dia mau shalat tapi malu bilangnya di skena ini, meeting sama Allah.

Uang panas berkeliaran di sekitar kita. Sayangnya uang kami dingin semua. Mungkin perlu dimasukan microwave, biar anget. Oya dalam bahasa jawa kontemporer: rejeki wis ono signature. rejeki wis ono sing tandatangan. Tak perlu berlomba masuk Forbes 30 before 30, sebab kesejatiannya adalah Trubus 30 before 31.
Musikmu aliran apa? Tidak mengalir. Dengan mengingat hal tersebut, kalau aku ketemu Ne-Yo, aku akan merekomendasikan dia untuk ke Halodoc. So Sick of love songs.
Dan ini sudah pagi, saatnya kembali berfantasi dalam realita ini. Menulis dengan cepat, mengumpulkan catatan harian untuk jadi mingguan, bulanan, tahunan, dan mileniuman. 40 hari semenjak kepergianmu, ternyata sama dengan 960 jam. Statistika.
Pondok Cabe, 17 Juli 2025
Nihan Lanisy
Leave a Reply