Empati

Sebagai orang yang tumbuh tidak dekat dengan cermin, saya lebih banyak bodo amat dengan banyak hal terutama terkait penampilan. Banyak orang bilang cuek, tapi ya buat saya tidak sengaja cuek juga sebenarnya. Cuma jarang ngaca aja wkwk.

Ada sedikit cerita nih, dulu saya jerawatan parah. Malu? Tentu ada malunya. Tapi malunya kalau lagi ngaca, karena kelihatan banyak jerawatan. Sedangkan kalau tidak ngaca atau difoto, saya cuek aja. Seperti di dunia ini gaada apa-apa kecuali jerawat yang agak perih dan sakit hehe.

4 tahun terakhir, berat badan saya naik 15kg. Ini kali pertama saya sampai di bobot ini, 85+ kg. Celana pada tidak cukup, baju terasa sempit. Dengan cara ini saya baru bisa berempati pada rasa malu dengan berat badan yang tidak ideal. Orang-orang, dekat maupun jauh, ada yang malu difoto atau diposting kalau tidak pas fotonya karena lagi gendut dll.

Saya sendiri sedikit-sedikit, pelan-pelan, merasakan rasa malu itu. Kalau difoto ternyata terlihat gendut. Kalau ngaca keliatan gendut. Tapi sekali lagi, kalau difoto dan ngaca aja. Kalau tanpa keduanya, saya tak peduli dan cenderung cuek aja.

Mungkin memang kita harus hindari foto dan ngaca, ignorance is a bliss. Menerima lemak-lemak tubuh dengan bahagia. Bukannya mengglorifikasi tapi kita harus menerima tubuh kita apa adanya.
“sejelek-jeleknya” adalah pemberian Tuhan, masih syukur diberi hidup, ini filosofi mendasarnya. Tak perlu juga kita ingin seperti masa lalu, artinya kita tidak hidup di masa kini.

Tapi jika gendut itu tidak sehat, tentu sehat adalah prioritas utamanya. Jadi ternyata agak tricky jika sudah seperti ini. Akhirnya saya mengalami hal-hal baru untuk jadi ujian baru dalam hidup ini. Dulu saya mau makan apa aja gapernah gendut, mungkin karena gerak terus dan senantiasa berkeringat. Namun kehidupan tak punya ampun, saat gerakan kurang dan makan bertambah, ditambah tekanan-tekanan pekerjaan yang membuat otak merasa pelariannya adalah makan = kombinasi sempurna untuk menggendut.

Sekarang, saya sedang mencoba embracing kegendutan ini. Bukan untuk tambah gendut, tentu dengan harapan bisa sehat. Dan saya rasa gendut ini bukan jawaban dari “sehat” itu. Bismillah, Januari 2026 bisa turun minimal 10kg. Sulit deh kayaknya, gapapa deh sekali-kali mimpi juga boleh. Kita update lagi di Januari 2026 yaa.

Ada banyak variabel yang main ketika kita jadi orang dewasa dan orang tua, seperti niat mengurangi porsi makan ternyata barusan anakku datang membawa kulit ayam yang dia gamau. Ya moso dibuang, tak makan juga akhirnya. Ini gasehat, tapi mungkin berkah, atau gimana. Filosofis sekali hidup ini dengan banyak hal yang bisa kita pertanyakan dan temui.

Sudahlah, estetika kita dihancurkan saja. Mau kurus, gendut, kekuruan, kegendutan semuanya adalah bagus. Semua ciptaan Allah bagus. Tapi kalau nurani merasa ada yang harus diubah, mari sama-sama kita ubah. Demi hal-hal baik, bukan estetika semata. Udah kayak orang bener aja ini hehe.

Bogor, 30 Agustus 2025
Nihan Lanisy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *