Untuk membuat layar PC semakin ergonomis, aku tumpuk beberapa buku di bawahnya. Berikut judul bukunya:
- Revolusi Glukosa oleh Jessie Inchauspe
- Trocoh oleh Budi Warsito
- Interval oleh Sarani Pitor Pakan
- Islam Rahmatan Lil ‘Alamin oleh Gus Muwafiq
- The Book You Wish Your Parents Had Read oleh Philippa Perry
Aku baru sadar kalau aku suka baca buku, sedangkan istriku suka beli buku. Keluarga yang saling melengkapi, alhamdulillah.
Aku dulu pernah jadi pembeli buku yang akut, terutama waktu tinggal di Madiun dan menjadi seperti bapak rumah tangga. Pelarianku adalah TogaMas Madiun. Banyak sekali buku yang saya beli, dan kebetulan dibaca juga. Buku bisa jadi pelarian bagi, mungkin, stres di alam bawah sadar. Jadi saat istriku suka beli buku sampai rumahku seperti Perpusnas-pun, saya tak melarang dengan keras, kadang mengingatkan saja.
Apa hikmahnya? Gaada, yang ada Cireng Hikmah itu di pinggir jalan lagi jualan.
Tapi cape-cape kamu kamu baca sampai sini, aku kasih sedikit pelajaran #menggurui. Mungkin yang bisa jadi pelajarannya adalah setiap orang sedang berproses melewati hidupnya yang kadang tak semua bisa diungkapkan dengan kata-kata. Jadilah teman yang baik mendampingi seada-adanya, sekurang-kurangnya. Teman berproses yang tak tau hasilnya seperti apa ke depan. Sejauh ini saya merasa ditemani dengan segala ketidakjelasannya dan Allah yang menunjukkan jalannya, dan kadang bukan hanya menunjukan tapi memaksa kita untuk nyemplung ke sesuatu. Keterpaksaan yang indah, kalau sudah Allah yang nyuruh-nyuruh.
Sekali lagi, jadilah teman berproses yang netral. Mungkin itu guna pasangan/teman yang senyata-nyatanya, bahwa tak segala keputusan harus hadir saat itu juga. Beri ruang untuk proses fermentasi ataupun pembusukan hadir. Biarlah bau sebau-baunya, biarlah wangi sewangi-wanginya.
Barusan kami pulang dari walk in the park. Sambil melamun, aku mengamati banyak pasangan yang berubah tak jadi teman lagi setelah menikah. All we need is just a friend in this world. Teman yang menerima kita apa adanya dan ada apanya. Menghadapi dunia dengan segala problemanya dan bilang “gapapa” dengan segala kekurangan dan kesalahan kita.
Ngopi six ndak seven.
Bogor, 26 Agustus 2025
Nihan Lanisy
Leave a Reply