
Kucari keheningan akhir malam, yang ada malah suara mp3 ngaji dari toa masjid. Tak ada ruang untuk hening, kecuali digali ke dalam diri. Keheningan tidak mesti berbentuk sepi dan nirsuara, ia adalah sebuah kondisi yang diciptakan dari penerimaan atas segala bising-berisik.
Selama ini, mungkin kita senantiasa mencari keluar. Menyalahkan segala keliling. Mengeluhkan panjang kali lebarnya dunia ini. Namun, semua sesuai prasangka si hamba. Jika kita pikir begitu, ya begitulah realita terbentuk. Abstraksi duniawi yang di kenteng magic oleh pikir sadar dan bawah sadar kita.
Hati bisa berupa liver ataupun qalbu, sama atau beda ya coba dirasa. Bahasa adalah alat komunikasi, sehingga saya berhak saja bilang “anu” untuk sesuatu yang bukan anu.
Tuhan sedekat itu, tapi memang kadang saya yang pilih menjauh. Menyelimuti diri dengan tepung panir dan maizena cair. Entah kenapa, mungkin takdir, mungkin ego diri. Dan hidup yang luas ini banyak di salah tafsir. Tak salah mungkin, hanya tak pas saja dengan konteks dan teks nya.
Dari segala mungkin, yang pasti cuma kemungkinan. Baju bekas adalah baru bagi yang memakai selanjutnya. Nasi basi adalah tetap makanan untuk mikroba. Hening malam adalah dengan segala berisiknya yang menemani.
Beyond psychology. Beyond human. Beyond langganan youtube premium. Beyond nasi padang.
Bogor, 28 Juli 2025
Nihan Lanisy
Leave a Reply