
Saya sudah di Jakarta Selatan, semalam saya masih di Ciwaluh, Kabupaten Bogor. Hidup gini amat ya, berpindah-pindah dengan segala kesibukannya. Maksudnya bukan mengeluh, tapi alhamdulillah, penuh pujian bahwasanya mungkin saya hidup masih jadi manfaat untuk orang lain #geer.

Semalam, ada kasus menarik kaitannya dengan komunikasi. Jadi, Curug Cisadane di Ciwaluh sedang rame-ramenya, bukan lain karena kekuatan sosial media. Sampai-sampai ada drop pin dengan nama “Curug Cisadane”, entah siapa yang membuat, tapi banyak reviewnya. Yang jadi masalah Google Maps menafsirkan lain, justru menunjukan lewat tempat yang salah dan tidak tembus, yang seharusnya lewat Ciwaluh malah lewat Cimande. Banyak orang nyasar dan memang jalannya tidak tembus ke curugnya.
Masalah ini sebetulnya bisa diselesaikan dengan beberapa cara. Pertama, klik Edit di Mapsnya. Lalu kita pindah titiknya, beri nomer hapenya, dll. Pasalnya, titip ini belum dimiliki siapapun. Kita bisa claim sebuah tempat pada Google Business. Selama belum diclaim, bisa diedit siapapun dengan Google sebagai moderator. Namun ada juga satu cara lain yaitu melaporkan ke Google jika jalannya salah, tapi hanya bisa lewat PC/komputer, tidak bisa pakai HP. Saya baru mau mencoba membantu hari ini dengan petunjuk dari link ini . Ada cara ke 0 juga, melakukan humas, hubungan mas-mas eh masyarakat. Jadi sosialisasikan di kanal info yang kita punya bahwa jangan pakai pin point itu.
Semalam, kami saling berbagi tentang komunikasi. Misalnya memahami bersama bahwa komunikasi bukan hanya kata-kata saja, ada yang non-verbal seperti senyum dan ekspresi lain. Formal dan non-formal juga didiskusikan. Ada juga kasus menarik bahwa dengan viralnya curug tersebut mendatangkan manusia dari berbagai segmen pasar. Ada yang komplain toiletnya ada kotorannya, ada yang tidak komplain, bahkan ada yang tidak datang kesana juga sehingga tidak tau menahu dengan toiletnya hehe. Standar mana yang mau diterapkan di kampung terujung itu?

Kalau mau enak ya hidup ga ngapa-ngapain. Duduk santai, uang banyak, hidup tercukupi. Namun hukum energi adalah jika energinya tidak digunakan justru akan menjadi mal-energi. Ketika kita lelah dan lillah, tidur dan energi kembali, kadang terasa lebih besar. Apalagi jika sudah bisa mengolahnya, semakin menolong orang malah gaada lelah-lelahnya. Semakin tidak bisa tidur, karena sebelum tidur ngopi juga sih.
Jadi orang pasti cape. Ngapa-ngapain dan ga ngapa-ngapain sama capeknya, butuh energi semua. Jadi itu semua pilihan, tapi saya tidak punya pilihan jadi ya dijalani aja, Hidup kok ga cape. Ntar dikira gakerja. Padahal ga kerja gapapa, yang penting ibadah. Kerja adalah ibadah. Pitikih.
Allahuakbar, manusia maha kecil.

Memulai pagi dengan nasi lele dan capcay, semoga semua hal yang diusahakan sesuai rencana. Kalau tidak sesuai, semoga senantiasa menerima. Sebab tak ada yang bisa membolak-balik hati Pak Lurah kecuali Allah. Allah Maha Pemilik segala pariwisata di dunia ini dan manusia hanya khilafah yang ditugasi mengatur dalam semua bentur-benturnya. Jika bumi tak lagi menangis, apakah air terjun masih ada?
Jakarta, 22 Juli 2025
Nihan Lanisy
Leave a Reply