Jelek-jelek gini, sempet disuruh jadi juri lomba nyanyi kemarin. Menilai orang adalah kelemahanku, mungkin karena aku tidak suka dinilai sama orang lain. Tapi aku putuskan keluar dari zona nyaman dengan menerima tawarannya, karena ternyata lebih semi dipaksa sih bukan ditawari hehe.
Sedikit tips, untuk mempermudah menjuri adalah dengan membuatnya hitam dan putih. Ini bagus, ini jelek. Ini tune, ini fals. Dari situ akan kelihatan mana yang mau dinilai, baru dikulik lebih dalam. Tapi menilai orang memang sulit sekali, apalagi di kesenian. Ekspresi manusia mau dinilai gimana caranya? Cuma kapitalisme yang bisa menilainya. Ah.
Tapi karena ada nilai yang harus dicantumkan, aku masukkan. Aku bukan orang yang segan memberi nilai 0 dan 100. Kalau bagus, aku akan tulis bagus betul-betul. Juaranya kuberi nilai 100-100-100-100 karena jiwaku tergetar, bukan hanya telingaku. Tapi yang jelek, nilainya ya 0 aku juga tega.
Ada paradoks dalam lomba yang menggelitikku. kalimat “tampilkan terbaik, juara atau tidak itu tidak masalah”. Ini lomba, tidak bisa begitu. Orang lomba motivasinya juara, kalau yang tidak masalah sama hasil adalah wong-wong tulus yang berkarya dan ga ikut lomba. Ada banyak hiprokrisi dalam perlombaan hehe.
Kalau pikiran kritisku tidak dikekang, semuanya bisa dikritik dan tampak salah, sekali lagi aku mohon maaf. Ini cara kerja pikiranku, sembari merayakan sesuatu, sekaligus memberinya kritik. Kritik itu tanda sayang kalau buat saya, sedangkan mendiamkan adalah acuh dan tak peduli. Mungkin buatmu beda, gapapa. Kalau gaada perbedaan setiap hari malam terus kamu gamau juga kan?
Untungnya, dalam mementukan juaranya tak sesulit itu. Ada gap yang jauh dari juara dan tidak juara. Yang sulit kalau semuanya berhak juara. Sekali lagi ini tentang menilai orang ya. Saya cuma dikasih kuasa sebaga juri saja kebetulan saat itu, sehingga saya harus judgmental itu tugas saya, mungkin sama dengan pembimbing skripsi/tesis/disertasi yang jadi nyebelin waktu mbimbing, padahal pas ngobrol di kantin asik aja. Ada tugas orang di saat-saat tertentu yang membuatnya harus berjarak dengan realita, harus masuk ranah idealnya.
Selamat untuk semua juara dan yang tidak juara di Lomba Seni Suara Disporeseni UT 2025. Gaada yang jelek sebetulnya, cuma ini lomba jadi tetep ada yang jelek atau bagus. Sampai jumpa lagi di yang bukan perlombaan, dimana setiap kita dirayakan apa adanya. Seadanya, sejeleknya, sebaunya, sefalsnya, se-apapun-itu-sebut-saja.
Bogor, 30 Agustus 2025
Nihan Lanisy
Leave a Reply