Assalamualaikum. Di jumat pagi yang cerah ini, izinkan saya menuliskan tentang pengingat kita tentang ilmu. Yang mana, jika ditinggalkan akan menjadi aliran sungai kebaikan yang mengalir sampai nanti dunia berakhir. Yang mana, yang kita ketahui hanyalah seupil dari bongkahan batu besar. Yang mana, yang mana?
Perjalanan menuntut ilmu adalah proses yang panjang. Menuntut tidak harus berhubungan dengan pengadilan. Sekali lagi namanya proses, ia bertahap dan terkadang sangat lambat. Hal-hal yang lambat sebetulnya tidak berarti berhenti, ia bergerak dengan temponya masing-masing, dalam tempo takdirnya. Jika belum waktunya tau, tak akan tau, sebab secara fundamental semuanya hanya diberi tau saja, ada tabir-tabir yang menutupi kita dari ilmu.
Di dunia akademik, pencarian ilmu mungkin spesifik. Ada bidang manajemen, akuntansi, ekonomi, bahasa, dll. Sudah begitu, ilmunya bisa dispesifikkan lagi, semakin kecil namun semakin dalam. Mencari kedalaman ini tentu harus pelan-pelan, jika buru-buru gendang telinga bisa pecah saat kita menyelami lautan dengan cepat-cepat tanpa adaptasi. Bisa gila, karena mental-state kita belum siap. Ada waktunya untuk segala sesuatu.
Tapi percayalah, riset atau research (mencari ulang atau mencari lagi) kadang terlihat seperti kegiatan yang tidak berguna. Sudah diketahui kenapa dicari lagi? Kenapa diusik-usik lagi? Karena ternyata ilmu sifatnya dinamis, tidak statis. Dunia ini penuh perubahan begitu juga ilmu dan sudut-sudut pandangnya. Apalagi ketika kita melakukan pencarian tentang sesuatu yang belum diketahui, Allah tentu maha mengetahui semuanya, kita tidak. Kita hanya berproses untuk berhak menjadi tau tentang segala sesuatu kemudian kita dibuat terlena dan lupa kerena menjadi ahlinya, padahal ada kebijaksanaan yang lebih tinggi bahwa semakin kita tau, semakin kita tidak mengetahui.
Apakah benar jika kita berilmu maka derajat kita akan ditinggikan? Iya dan tidak. Jika ilmunya digunakan untuk jadi manfaat bagi banyak orang, tentu akan naik dengan sendirinya. Perlu kita sama-sama ingat bahwa naik derajat tidak sama dengan kaya raya secara material, bisa jadi iya, tapi kadang juga tidak. Allah punya caranya sendiri untuk naik-naikin derajat hamba-Nya, dengan cara yang kita bisa duga atau full of surprises. Tapi ilmu juga bisa membuat kita masuk jurang yang tiada tara dalamnya, jika digunakan tanpa bijaksana dan kesalihan. Hanya untuk ngakali orang lain dan mendapat keuntungan sendiri, bukan untuk kebermanfaatan dunia dan akhirat.
Khotbah jumat ini tidak perlu panjang-panjang, sebab saya juga bukan khatib. Namun percayalah siapapun yang menuntut ilmu dengan diawalah Bismillah, dengan nama Allah, akan dipertemukan dengan yang dicari dan dicarikan tempat terbaik saat hidup dan matinya. Seluruh ilmu putih, tergantung penggunaannya. Yang hitam adalah hati kita, yang terkadang lupa bahwa kita hidup hanya sementara dan tiada lain akan bermanfaat jika kita saling membantu dan mengingatkan dalam kebaikan.
Orang berilmu akan jadi alim, orang yang mengetahui. Yang tau harus memberitahu, dengan takarannya masing-masing. Yang tidak tau harus mencari tau. Semua punya tugas masing-masing di dunia ini, dunia yang sementara seperti seorang musafir yang haus dan mampir ngombe saja. Berteduh di bawah pohon sambil bersaksi bahwa “alhamdulillah”, segala puji hanya milik Allah. Seluruh pujian yang hadir ke diri kita, sesungguhnya adalah pujian untuk Allah. Yang menciptakan kita, yang membinasakan kita, yang punya hak terbesar akan sel dalam tubuh kita. Yang mengalirkan qi dan darah dalam tubuh kita, yang nanti pada suatu hari juga menghentikannya.
Alhamdulillah. Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.
Pondok Cabe, 6 Februari 2026
Nihan Lanisy
Leave a Reply