Kawan Kapitayanku

Mengenang Mbak Uci, semoga damai di alam yang lain.

Di kantin Pascasarjana ISI, entah berapa kali kami berdiskusi. Lebih seringnya mungkin berdua, bahasannya bisa lebih dalam sebab mungkin tak semua orang nyaman dengan pembahasan kami.

Seperti dirimu yang senantiasa menyemangati ketika saya lagi pingin berhenti kuliah. Katamu, tetap harus semangat sebab aku adalah kesuksesan yang ada di masa depan. Entah sukses itu maksudnya apa. Kemudian ketakutanku berada di depanmu, sebab tak ceritapun kau bisa menceritakan. Bahkan semenakutkan kapan aku mati kau jawil-jawil, tapi justru dari situ aku paham beratnya mengetahui yang tak seharusnya diketahui dan harus merahasiakan karena tak semua-mua harus diungkapkan. Sebuah paradoks dengan konsep “lelaki bercerita”-ku. Apalagi seluruh cerita sedih dan hancurmu, yang jika di nalar dan logika seperti tak masuk. Mungkin butuh logika lain, seperti logical fallacy pun tak apa jika memang bisa digunakan untuk memahaminya.

Masih ingat saat kau menjelaskan segala kekapitayananmu, yang kucecar dengan banyak pertanyaan juga. Aku penasaran, sekaligus kritis.

Ya, mengenang masa-masa itu, semua dipertemukan begitu saja dan tak semua orang mungkin tau cerita-cerita ini. Saat di Pangkalan Bun, terpikir mengunjungimu namun kau sudah di alam lain, artinya kapanpun bisa dikunjungi dengan doa. Royalti lagu-lagu gospelmu juga masih kuurus, semoga aku amanah.

Damai berkah di sebelah alam kami. Barangkali baca tulisan ini, WA aja mbak hehe.

Bogor, 9 Agustus 2025

Nihan Lanisy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *