Kawan Lamo

Judul tulisannya mirip nama warung padang di deket rumah. Tapi mungkin memang semua orang punya kawan lama ya. Saya akhir-akhir ini banyak nemu artefak persahabatan. Jadi ingat kalau punya beberapa teman yang dulunya akrab dan dekat dan sekarang sudah tidak akrab dan tidak dekat. Pertanyaan saya, apakah bisa dibuat akrab dan dekat lagi sesuatu yang sudah kadung jauh?

Saya tapi punya premis hipotesis, kalau kita punya teman-teman yang mainnya ke gunung, hutan, gua, dan alam-alam lain, kecenderungannya jadi lebih dekat karena di alam kita semua telanjang, masih pakai baju maksudnya namun cerita-cerita kita jadi telanjang. Apalagi kalau kita pergi ke tempat-tempat yang tak ada sinyal seluler, selain ngobrol dan melamun kita mau ngapain lagi hehe.

Akhir-akhir ini pula, saya kirimkan foto-foto ke teman-teman di WAG ataupun japri. Beberapa menyatakan sangat senang dengan foto itu, grup-grup ada yang jadi hidup lagi, namun lebih banyak silent readernya. Apakah para diam itu tidak merasakan sesuatu? Atau hanya tidak mengungkapkan saja? Sedikit bertanya-tanya, tapi pertanyaannya saya tinggal saja di rumah.

Sayangnya dan untungnya, kita semua sudah grow up and it’s a trap. Fase hidup yang berbeda dengan tugas yang berbeda, perubahan itu nyata dan nyate (kambing enak juga). Semua cerita dibelakang hanya untuk dikenang dan dijadikan pelajaran.

Namun, saya menemukan bahwa ada banyak hal yang belum selesai di masa lalu hadir lagi di masa yang kini. Pelan-pelan diselesaikan. Yang punya salah dimintakan maafnya, yang ada utang diselesaikan. Yang mau ngutang dilanjutkan, jangan lupa ngelus dengkulnya.

Jika masa dibagi tiga: lalu, kini, esok. Tapi masa juga boleh jadi satu aja: masa iya?

Bogor, 24 Agustus 2025
Nihan Lanisy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *