
sesampainya kami di laguna, tiba-tiba banyak anak-anak yang mengelilingi menawarkan jasa foto. mereka tidak memaksa dan seikhlasnya, namun kalau boleh jujur terasa mengganggu. Yanus, berbaju merah dalam foto, nempel sama saya terus. saya bilang “itu tawari ibu-ibu, mereka lebih suka difoto”.
Yanus tak berpindah, masih berharap saya menggunakan jasanya. seikhlasnya. Saya kemudian suruh dia berdiri di tempat yang ia sarankan untuk saya berfoto. “Ayo siap ya, 1 2 3 cekrek”, saya fotokan Yanus. Kemudian Yanus saya ajak melihat hasil fotonya. Saya keluarkan 10ribu dan diterima tangan Yanus. Yanus tampak bingung.
“Kamu sudah pernah belum difoto malah dibayar 10ribu?”, tanyaku. Ia menggeleng sambil bingung. Mungkin dalam hatinya, om ini aneh sekali. Biasanya dia memfoto kemudian dibayar, ini malah sudah om-nya yang fotokan dan kemudian dia dibayar.

Setelah foto ini diambil, dua orang anak menghampiri saya.
“Saya preman om. Minta uang 1juta”
Mereka bercanda. Saya juga.
“Saya juga preman”, kata saya
“Minta uang om, buat beli rokok. Atau minta rokok om”
“Om tidak punya rokok, dan tidak punya uang. Tapi om punya ini untuk kalian”, saya mengeluarkan 2 roti dari NAM Air dan 1 kotak kurma. Mereka ambil dengan antusias.
Kataku lanjut, “Ini bikin kenyang. Uang tidak. Kau pernah makan uang belum? Uang dimakan tidak bikin kenyang”
Muka mereka bingung. Om ini aneh, mungkin itu dipikirannya.
Kemudian datang 5 orang ke arah saya lagi, tidak menawarkan foto karena tau dari tadi saya tidak bonafit untuk diusahakan. Mereka lewat saja. Saya panggil
“Ini uang 50ribu tolong dibagi-bagi ya. Tapi syaratnya dengarkan om”
Mereka mengangguk. 5 menit mereka mendengarkan nasihatku untuk bersikap ramah dan baik, jangan pernah memaksa orang yang tidak mau, tentang keberlanjutan yang harus dijaga, dan tak lupa saya tanyakan ke mereka “apa perasaan kalian kalau banyak orang tapi tak ada yang mau difotokan?”. Mereka menyimak paparanku, entah masuk hati atau hanya jadi angin lalu. Tapi tugasku hanya menyampaikan saja, semuanya kemudian proses diri dan tuhan berkati saja.
Semoga pariwisata menjadi berkah untuk masyarakat Sumba. Betapa timpangnya orang-orang berduit berlibur dan menikmati indahnya Sumba namun mereka yang menempati dan menjaga sehari-hari hanya menonton saja dan mungkin dianggap tak ada.

Semua yang belum, bukan berarti tidak. Terberkatilah Sumba dan masyarakatnya.
Tambolaka, 11 Maret 2026
Nihan Lanisy
Leave a Reply