Melucu

Menjadi orang yang bisa melucu mungkin adalah sebuah berkah. Bagaimana seseorang bisa lucu? Bukannya lucu itu subjektif ya?

Aku ingat cerita Bapak ketika ditanya bagaimana bisa lucu. Kalau pradugamu tinggi, harusnya kamu paham maksudku bahwa bapakku lucu. Makanya ada yang tanya “bagaimana supaya bisa melucu?”.

Menjadi lucu itu sebuah latihan. Ada yang secara profesional jadi standup comedian sehingga menulis dan dipraktikkan serta diuji di ruang-ruang open mic. Namun di kehidupan sehari-hari, kita juga bisa menjadi pelucu amatir. Menjadi berkah untuk bisa bikin orang tertawa, bukannya mecucu a.k.a cemberut a.k.a familia (malah NDX).

Konon katannya, Bapak suka baca buku lelucon. Satu per satu dipraktikkan, kalau tidak lucu akan ditelaah apakah karena ceritanya atau cara menyampaikannya. Kalau tidak salah, kebanyakan karena cara menyampaikannya salah. Ada intonasi, ekspresi, dan pemahaman pada waktu yang tepat. Lelucon di kegiatan sripah (melayat) pasti kurang tepat, walaupun kadang tetap lucu.

Memang benar, di rumahku ada beberapa buku lelucon. Mulai dari yang standar sampai yang saru-saru. Aku tidak terlalu banyak baca bukunya karena menurutku beberapa tidak lucu. Buku lucu yang aku ingat adalah bukunya Setiawan Tiada Tara, dulu ada di Gramedia Jogja. Plesetan-plesetan dll.

Kalau saya, sekarang punya kebiasaan mencatat hal-hal lucu. Entah dari observasi, cerita teman, atau sekedar obrolan ngalor ngidul yang ternyata melahirkan kelucuan.

Berikut dua catatan terakhir (sekaligus saya sampaikan konteksnya):

  1. Semalam, kami sekeluarga nonton youtube di TV. Anak-anak menonton sebuah video “Meme Rewind Indonesia 2025”. Lucu sekali videonya. Kami sekeluarga emang senang konten shitposting, sebagai hiburan dalam hidup yang kadang keras dan bosan ini. Nah, leluconnya dimana?

    Beberapa konten di video itu dibuat dari AI. Terus keluar celetukan saya “AAAAAAI A A A AI” seperti orang sedang di konser dangdut (EA).

    Kemudian saya catat di HP: Katanya AI ada baru-baru ini, ternyata dari dulu dangdutan udah pake AI.
  2. Semalam juga, di grup beasiswa Rusia saling share tentang bahasa Rusia. Kemudian salah satu anggota menanggapi, “Saya taunya cuma Mishka aja (maksudnya Masya and The Bear”.

    Spontan saya jawab: “Justru itu level tertinggi bahasa rusia. Bisa ngomong sama beruang”

    Saya catat, sesepele itu.

Nah, begitu kira-kira ilmu tentang lelucon yang bisa saya bagi. Sumpah, lelucon itu bisa mencairkan suasana dan membuat sekat-sekat antarsuku, antarbangsa, antardimensi, dan antarapapun bisa cair. Menyublimkah keseriusan dan semua menjadi manusia yang sama: ingin bisa tertawa, bersenang, dan bahagia.

Bahkan kata lucu pun lucu. Bayangkan orang luar negeri (yang tidak tau bahasa indonesia) mendengar kata lucu, pasti lucu. Sama seperti semalam saya mencatat “lesu” adalah hutan di dalam bahasa rusia. Orang utan adalah orang lesu.

Semoga semua makhluk bahagia. Assalamualaikum

Pondok Cabe, 14 Januari 2025
Nihan Lanisy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *