neraka di tenggorokan

pagi cerah, tubuh bergairah. mencuci baju dan tiba-tiba tubuh melemah, tak kuat tuk menjemurnya. rasanya ingin berkontribusi pada kehidupan, setelah sebulan lebih nirfungsi. begini rasanya ternyata, diberi cuplik sampel oleh Allah tentang rupa-rupa hidup.

tiba-tiba, muncul neraka di tenggorokan. bicara sulit, tertawa sakit, menelan seperti mau mati. baru kali ini merasakan hal ini. jika hidup hanya tentang rasa, kali ini rasanya seperti mau mati.

air putih ditelan seperti silet. madu ditelan menjadi panas. bubur ditelan seperti aspal kasar. bukan melebih-lebihkan, namun setiap gerak peristaltik tenggorokan adalah sebuah perjuangan kemerdekaan.

berlangsung 4 hari dan saat ia mulai mau hilang, justru ada yang aneh. sudah mulai terbiasa dengan rasa sakitnya. mungkin rasa sakit itu tak kemana-mana, hanya makin terbiasa dan adatif saja. berlaku untuk banyak rasa sakit lain dalam hidup mungkin.

yang aku ingat hanya tidur dan tidur saja. mungkin setelah 2025 jadi tahun tersehat dalam hidupku, disecuil akhir tahunnya diberi sebuah bold statement tentang keseimbangan hidup, bahwa pasangannya sehat ya sakit, sama dengan hidup bersama mati yang selalu serasi.

menuju tahun-tahun kedepan yang lebih tenang, sabar, syukur, dan sebagainya. nerimo dan semeleh. terkadang fungsi terbaik manusia adalah sebagai sang tidak berfungsi, memberi banyak ruang dan perspektif untuk tumbuh dan menjadi ayah yang hadir utuh dan duduk diam mengamati.

bogor, 13 desember 2025

nihan lanisy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *