Principal of Pringsip

This morning, Eto utro, enjing menika, pagi ini. I, ya, kula, aku – berjumpa dengan video di atas. Dimana Gary Vee, menceritakan tentang “tak peduli berapa uang yang kau hasilkan asalkan attitudemu buruk, kowe ora penting”. Sebuah hal yang mungkin agak jarang diajarkan oleh orang bisnis, yang mikirinnya hanya bisnisnya saja, yang tak saling mengingatkan bahwa kita sama-sama manusia. Sama-sama kerja. Sama-sama cari duit. Sama-sama kehabisan duit. Sama-sama kelaparan. Beda-beda tugasnya. Beda-beda jabatannya. Beda-beda pendapatannya. Beda-beda beda-bedanya. Dsb.

Konten ini menyegarkan sekali, disaat sebelumnya saya baru saja nonton konten tentang hook Medsos dengan judul “How to be viral”. Ada banyak kepalsuan di dunia maya, ada kotak-kotak dan lingkaran yang menjerat manusia untuk menjadi palsu dan bukan dirinya. Lagi-lagi, konten-konten Gary Vee lain, yang mengajarkan tentang personal branding, mengedepankan menjadi diri kita sendiri. Tak perlu membuat brand yang beda-beda saat kita bisnis, jadi manusia personal, jadi guru, dll. Jadilah 1 orang, manusia, yang akan meninggalkan legacy dan ingin diingat sebagai apa.

Yaa, walaupun menghadapi Gary Vee kita juga harus tetap dengan skeptisisme (karena dia juga content creator), namun paling tidak kontennya mengajarkan adab dan menjadi nguwongke manusia ditengah hiruk pikuk dunia yang memesinkan manusia.

I’m not trying to be idealist here, karena ngobrol sama rekan kerja yang sangat idealis kemarin sangat melelahkan. Hidup ini realita, bukan alam mimpi. Kadang yang ada didepan kita akan berbeda dengan pikiran kita ataupun teori yang ada. Hadapi saja, dengan senyuman dan ikhlas serta sabar. Simpan idealisme di dalam pikir dan hati, namun jangan paksakan kehendak pada orang lain. Pringsip adalah principal.

Nah terkait dengan ini, ada yang menarik juga dari obrolan mantan pelatih Liverpool, Jürgen Klopp di Podcast DOAC. Aku lupa detik ke berapa, tapi dia bilang kurang lebih: oke, ini bukan hari terbaikmu, tapi aku harus bangun dan menghadapi ini. Mentalitas kerjanya adalah rutinitas dan realitas. Tentu dia punya standar ideal yang ingin dicapai, namun ketika semua tak seperti yang diinginkan, ia tetap akan bangun pagi dan menghadapi itu semua. Sebuah prinsip yang mrinsipi.

Nah, yang menarik orang hidup dengan prinsip yang beda-beda. Tergantung budaya suku, keluarga, lingkungan, dan banyak variabel yang mempengaruhi. Perbedaan. Sekarang tergantung prinsipmu, mau menjadikan perbedaan untuk bahan bakar perang dan pertengkaran atau sekedar dirayakan saja sebagai fitroh berputarnya dunia? Sekali lagi, manusia hidup dari prinsipnya, walaupun bisa goyang dan berubah juga.

Ini semua hanya pandangan dan pendapat saya saja. Jangan dianggap kebenaran atau nasihat. Sekedar belaian sayang bagi orang-orang yang merasa membutuhkan tulisan ini. Tak perlu didebat, karena saya akan langsung jawab: “iya, kamu yang benar”. Itu prinsip.

Pondok Cabe, 21 Januari 2025
Nihan Lanisy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *