RM Padang Garuda Sabang

Saya datang terlambat sama Nur, karena satu lain hal. Teman-teman sudah selesai makan waktu kami datang. Kami pun makan. Memesan 3 es teh tawar yang datangnya satu per satu dan harus pesan lagi tiap datang 1 es teh tawarnya, mungkin ini SOPnya atau orangnya lagi training atau sebetulnya hanya ujian saja hehe.

Sampai tulisan ini ditulis, saya belum bayar karena belum ditagih oleh Juan. Makasih Ju haha (semoga tagihannya segera dikirim). Saya makan nasi, seluruh jengkol, rendang sisa Nur, dan separuh perkedel yang tak dimakan.

Saya kira setelah makan mau pindah ke tempat ngopi, biar ngobrolnya lebih enak. Lha kok ternyata Zakka dan Juan menyalakan rokoknya. Alamak ternyata tempat ini rame bapak-bapak karena boleh merokok habis makan di dalam ruangan berAC-nya itu. Sebuah skena yang jarang saya temukan, tapi memang ibu-ibu dan anak-anaknya jadi lebih sedikit.

Kami ngobrol-ngobrol sampai terpaksa keluar karena parkiran motornya sudah mau tutup, beberapa teman bawa motor. Setelah itu kami ke Wahid Hasyim tapi tutup ternyata yang dituju, bangkrut kayaknya, lha Friday Night kok tutup haha. Saya kepikiran ke RM Padang Garuda lagi, saya mau bilang “kami tadi sudah makan disini mau ikut duduk-duduk lagi” tapi kok kayaknya ga asik juga hehe. Yasudah, menyusuri lagi Jalan Sabang dan menemukan Kopi Kenangan. Bukan di situ, tapi diseberangnya, di tangga-tangga toko yang sudah tutup sambil minum kopi dll dari kios yang totalnya untuk berlima cuma 25.000.

Sebagai penutup, Nur kebelet buang air. Kata penjaja kios, kebanyakan orang disitu pinjam toilet di Bakso Rusuk. Bakso Rusuknya buka 24jam. Saya lihat Nur kesana terus kembali lagi. Sepertinya dia malu, saya berinisiatif menanyakan. Ternyata boleh. Ia pun benar malu, tapi daripada kecirit atau ngompol akhirnya masuklah ke toilet itu. Kami menunggu diluar.

Lama menunggu 15 menit lebih sepertinya, saya mulai curiga dia malah makan bakso karena gaenak karena pakai WC gratis. Atau dia malu untuk keluar dari WCnya hehe, saya telepon ga diangkat. Ternyata yang terjadi adalah, tarikan air ke sentoran klosetnya kecil, dia harus mengisi airnya dengan bidet yang airnya juga mengucur pelan. Sebuah perjalanan spiritual untuk membersihkan kotoran kita, sudah gratis mungkin jadi tambah gaenak lagi kalau tidak dibersihkan hehe tau dirilah kita.

Bertemu teman-teman selalu menyenangkan. Kita punya ruang untuk menjadi kita yang sama meski semua sudah di jalan hidup masing-masing tak terikat dengan mata dan jadwal kuliah yang sama. Sehat berkah kabeh konco-koncoku, pertemanan adalah obat, kecuali kalau pertemanannya toxic haha.

Bogor, 24 Agustus 2025
Nihan Lanisy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *