secuplik mudik 2026

cerita ini mungkin agak panjang. lebih panjang beberapa senti ke bawah dari tulisan biasanya. ini cerita yang penting saya tulis sebagai rasa syukur saya kepada Tuhan yang masih memberi kesempatan mudik serta pulang mudik dalam keadaan hidup serta masih bisa ngetik cepet tulisan ini hehe.

rejeki memang tak pernah terduga datangnya dari mana. salah satunya dari pengumuman WFA pemerintah dan kebetulan kantor saya sami’na waatho’na terhadap ajakan WFA-nya. Kalau ditotal-total kok yo bisa “libur” 14 hari. Ini sebuah rezeki yang tak bisa ditolak dan tak bisa dipaksa, hanya sebagai seorang hamba yang menerima beberapa day off.

nah, keputusan tentang berangkat dan pulang mudik bagi saya dan istri yang masuk dalam “thinking” di STIFIN kadang memang pelik. kami menganalisis dan membuat prediksi kira-kira yang terbaek yang mana. sebetulnya alasannya simple: biar ga macet dan ga kesulitan pipis dan isi bensin di rest area. Rest Area tol itu penuh banget kalo pas lagi puncak-puncak mudik, di jalannya padet dan macet-macetan sebetulnya gapapa, tapi kalo udah mau pipis dan ee tapi terhambat: dunia bisa terbalik.

kami berangkat tanggal 14 maret. sabtu pagi yang ga pagi-pagi amat, karena ternyata di pagi sebelum keberangkatan ada berbondong to-do list yang harus diselesaikan: cuci piring, masukin motor, buang sampah, dan pesen lalamove untuk anter kucing yang mau dititip. ada-ada aja. takdzim, kita berangkat jam 10-an, agak siang. tapi alhamdulillah hari itu diparingi lancar karo Gusti Allah, pipis masih lancar di rest area. isi bensin masih selo. dari rumah agak was-was sejatinya namun di jalan pas liat kelengangannya jadi mulai santai. alhamdulillah.

ada juga adegan pulang-pergi ke Caruban + pulang mudik ke Bogor. Ini semua dipikirkan dan direncanakan, namun apa daya namanya manusia, ya kalo ga bejo ya beruntung aja. kami ke Caruban tanggal 20 Maret, paska solat ied di Jogja. males lewat tol, kami lewat jalur nostalgik Jogja-Solo-Tawangmangu-Magetan-Madiun-Caruban yang konon beberapa tahun yang lalu senantiasa kami mengaspal di jalanannya. Jalannya super sepi, warung-warung di gunung lawunya sepi-sepi banget, sebuah priviledge. Terus pas mau pulang ke Jogja lagi dari Caruban, kami berangkat di hari dimana kemarinnya macet banget, hari itu tidak macet sama sekali, cuma padat saja. Macetnya pas masuk Jogja, ini sudah ga kaget hehe.

Pas pulang, sebetulnya ada banyak opsi, tanggal 26 sampai 29 Maret. Tinggal pilih. Tapi pasti ada puncak-puncaknya itu, cuma karena jadwal orang masuk kantor itu beda-beda (ada yang 26 maret masuk, ada yang 30 maret masuk) kami mau berangkat hari terakhir aja yaitu 29 maret, minggu; seninnya masuk kantor saya. 29 Maret pagi itu tol memang ramai tapi tidak seperti mudik suasana di rest areanya, lengang. Padahal kemarin dan kemarin lusanya, beritanya serem-serem lho: macet 15km, macet 30km, dst.

mudik kali ini membawa sebuah berkah dimana bisa berlama-lama dikampung halaman serta pulang-pergi tanpa gangguan berarti. apakah kalau tidak bisa lama-lama dan PP dengan gangguan berarti kita tidak mengucap alhamdulillah? tentu apapun yang terjadi sudah seharusnya kita baca alhamdulillah, memuji-muji yang membuat macet dan meniadakan macet di dunia ini.

nikmatnya silaturahmi, sudah bisa ngobrol, memperpanjang usia, eh memunculkan percik-percik rezeki baru. semua yang berkurang akan bertambah makin banyak. semua yang salah-salah semoga saling memaafkan meski tanpa diminta. dan semoga meski lebarannya beda tanggal, semua tetap kembali. sebab semua ritual dan kebiasaan itu adalah hampa jika kita tidak “memaknainya”.

Pondok Cabe, 31 Maret 2025
Nihan Lanisy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *