merasa pintar, bodohpun tak punya

Judul artikel ini diambil dari judul buku alm. Rusdi Mathari. Salah satu judul buku favoritku, sangat menggelitik dan sufistik.

Kali ini aku mau cerita sebuah proses. Senang sekali kembali berproses. Cah kesenian tentu senang berproses, hasil adalah bonus wkwk.

Kapan terakhir kali kalian merasa bodoh? Kalau aku, ya sekitar 7 bulan lalu. Sore ini juga merasa bodoh, sehabis kelas bahasa rusia. Dimana aku mulai melihat alfabel kiril-nya Rusia. Huruf opo iki? dalam batinku berteriak.

Kemudian mulai belajar membaca lagi. Aku sesekali merenung, belajar membaca? Seperti aku ikut Bimba AIUEO. Perlahan mengeja, sering lupa hurufnya, dan memperkenalkan rasa bahasa itu ke lidahku. Goyangan Sh, Zh, Sy, Ch, V, Eu, dan huruf-huruf asing itu.

Bahasa Rusia berhasil membawaku menyelami judul buku diatas. Bodoh saja tak punya, kok merasa pintar. Bahasa Rusia telah memporakporandakan kesombonganku, rasa digdaya yang hadir karena bisa bahasa inggris dan bahasa indonesia.

Kuawali dengan bismillah, minta izin sama yang punya jiwa raga ini bahwa aku berniat masuk dunia baru: bahasa dan budaya rusia. “god, show me the way because i see there’s no way for me”. Tanpa guru formal, kuselami kebingungan-kebingungan dan kuharap tuhan berkenan menitipkan secuil ilmunya padaku. Terus berharap.

Pelan-pelan huruf kukuasai. Aku coba baca koran online Rusia. Kepala sampai rasanya pusing sekali. Namun pengalaman adalah guru terbaik, semua skill dalam hidupku, yang aku ingat, kudapatkan lewat kepusingan dan banting tulang. Semakin keras, semakin membekas. Mulai bisa baca, tapi ga tau artinya.

Terus aku tekuni dan khidmati jalan sepi ini, sambil menerima selentingan2 “bahasa rusia itu sulit banget lho” atau “ngapain sih nyusahin diri sendiri”. Adult life emang beda, bayi gabakal yang ada dibilangin gitu. Aku mencoba macak bayi, yang kosong tak tau apa-apa dan siap menerima.

Kutemukan lagu-lagu tahun 90an dan 2000an dari Rusia sebagai penolong. Nayk Borzov, Zemfira, Akvarium, dll membantu sekali menambah kosa kata. Membuat tambah bingung dengan perubahan-perubahan katanya. Grammar yang aku tak pelajari, cuma minta Allah kasih tau maksudnya.

Pelan-pelan cahaya ada, walau cuma setitik dan sebentar. Kemudian menyelami kebingungan-kebingungan lagi. Kutonton film sisan, tambah ramudeng rapopo. Yang penting sambil menyelami budaya. Bahasa, dalam kepercayaan saya, adalah produk budaya. Sedangkan budaya itu masalah rasa, harus tiap hari ditemui untuk bisa nyantol.

Istilah kata, saya gacuma snorkeling, saya sedang diving. Masuk lebih dalam memandangi keindahan wakatobi walaupun masih tidak tau banyak hal.

Alhamdulillah, kemudian ada kesempatan kursus. Dengan kurikulum, dengan guru. Disini banyak pertanyaan terjawab. Cara saya belajar loncat-loncat selama ini, semau saya. Ketika saya merendahkan diri terhadap ilmu, semua mulai silau. Bukan terang lagi, tapi silau.

Kendala terbesarnya sekarang adalah menghafal. Metode saya dalam berbahasa adalah “santai wae”. Tidak perlu memaksakan semua untuk dihafal. Bahasa itu proses natural, yang kita gunakan sehari-hari yang akan nempel. Kalau masih hidup di Indonesia, tentu tak akan mudah menghafal. Semoga nanti benar ketika tinggal disana, semua jadi nempel karena biasa dan terpaksa.

Postingan ini, sekali lagi mau saya kembalikan ke hakikat awal waktu saya mau nulis. Dengan segala kerendahan hati, belajar bahasa baru yang superasing membuat kita merasa bodoh pun tak punya. Sehingga, bisa jadi suatu cara untuk menghancurkan semua rasa bisa, ke-aku-an, dan merasa pintar.

Terimakasih bahasa rusia. telah menjadi hujan tak berpayung. Dimana bahasa ternyata adalah sebuah cara komunikasi jiwa, bukan sekedar kata atau grammar yang dihafalkan. Teori dan rasa yang bersatu, menjadi keseimbangan.

Pada akhirnya, diam adalah bahasa terbaik dan tulisan adalah kata paling berisik di ruangan.

Salam.

Pondok Cabe, 3 Juli 2026

Nihan Lanisy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *