bendungan rejeki

dalam hidup ini, ada yang terlihat dan tidak terlihat.

rejeki adalah salah satu misteri di dunia. dalam bentuk kurensi maupun bentuk-bentuk lain. rejeki juga menarik, dia berkah sekaligus ujian. yin yang. semuanya serba berkeseimbangan.

apa kunci kalau mau berkelimpahan rezeki? membuka diri dan siap menerima. level pertama ini. dalam hemat dan pengalaman empiris saya, setiap orang yang percaya bahwa rezeki itu sudah diatur, berkelimpahan, datang pada waktunya, penuh berkah walaupun sedikit; maka ia akan mendapatkannya.

rezeki yang didapatkan adalah rezeki yang tak perlu diundang dan tak dapat ditolak. ini didapatkan sebagai berkah dari Allah atas keseriusan seorang insan dalam percaya bahwa hidup tak akan pernah kekurangan, sebab Allah Maha Mencukupkan.

Tak habis-habis kisah orang kesulitan ekonomi, namun disisi lain tak habis-habis juga kisah tak manuk akal orang-orang yang berkelimpahan. Sebagai contoh orang yang dapat miliaran karena membenarkan sebuah mesin, yang bahkan pabrik mesinnya sendiri sudah angkat tangan, dikehendak Tuhan semuanya itu gampil dan sederhana. Lalu orang yang hanya memberikan kontak temannya tanpa meminta apa-apa, kemudian di beri milyaran sebagai bentuk terimakasih karena telah menjadi perantara sebuah proyek duniawi besar. Orang yang haji berkali-kali tanpa membayar. Orang yang mobil ganti-ganti tanpa pernah beli. Orang yang kerjanya cuma ngomong tanpa punya ratecard, tapi hidup tak pernah kurang sampai kerepotan menerima rejeki-rejekinya. Buanyaaaaaaak.

Penerimaan terhadap rezeki, banyak atau sedikit, itu proses. Hamba Allah di tempa dengan kenikmatan dan ujian (yang nikmat juga sebetulnya) untuk bisa berpikir, berkhalwat dengan gagasan. Jika bersyukur akan selalu ditambah, jika kufur, bukan dikurangi, namun azabNya sangat pedih. Sebuah kalimat yang memancing pertanyaan lain.

Kemampuan bertanya juga sebuah rezeki. Dari pertanyaan menemukan jawaban, temuan, inovasi, dll. Apapun itu, kadang sepele, seperti bukan rezeki, namun jika kita ada waktu merenung, tentulah ia rezeki.

Sampai paragraf ini, kamu masih sudi membacanya? Duduklah tenang. Syukuri apa yang ada, lebih kurangnya. Mulai terima apa yang ada di hidupmu, apapun itu. Minta maaf banyak-banyak pada tuhan dan makhluk2nya yang mungkin disakiti. Insyaallah siapapun yang bersih dan mencoba bersih, kotoran dirinya akan diganti rezeki yang berlimpah. Menariknya keberlimpahan itu subjektif, setiap orang yang pandai bersyukur rezekinya akan selalu banyak, sebab “sedikit” pun banyak. bahkan “tak ada” pun banyak.

Alhamdulillah.

Kuakhiri dengan sebuah renunganku yang berumur puluhan tahun ini. Hidup sejatinya hanya bantu membantu, kadang komersial seringnya gratisan. Semuanya adalah jalan menuju rejeki, entah yang dengan patokan harga atau yang seikhlasnya. Dan sampai akhirnya kita akan sadar bahwa rejeki tak cuma kurensi, ia menjelma dalam bentuk apapun, sesederhana aroma kopi pagi hari walaupun kopinya tak kita miliki. Atau kicauan burung yang kita nikmati samar, meskipun burungnya tak kita kandangi. Bismillah, terberkatilah kita semua. Amin.

Pondok Cabe, 7 Juli 2026
Nihan Lanisy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *