11 dan 9,7 tahun yang lalu, saya menggali tanah. Sebelumnya, saya mencucinya di kamar mandi. Kenyal dan menggelikan, ada darah-darahnya. Galian tak terlalu dalam, yang penting tidak bisa digali hewan saja, tapi kalau digali dinas PU tentu bisa. Menanam sembari berdoa, doa apa saja yang baik-baik untuknya. Tak ada lampu atau kurungan ayam diatasnya.
Saat ini, tanah itu sudah jadi area dagang komersial. Setiap parkir di atasnya, hiperbola dan dramatisasi ini, saya merasa seperti menginjak masa lalu. Dimana kelahiran dan tangisan adalah menu harian. Saat ini keduanya sudah semakin besar, semakin ngeyel, semakin pintar, semakin banyak menawar. Keduanyapun minta yang ketiga dan seterusnya, tapi entah kapan datang lagi waktunya harus menggali dan menanam.
Handling ari-ari tak pernah diajarkan disekolahan manapun dalam hidupku, tapi pada saatnya tiba, mau tak mau harus bisa. Begitu pula memiliki dua pemilik ari-ari yang saya ceritakan tadi, tak pernah direncanakan dan diketahui bagaimana cara membesarkannya. Hanya memberi kebebasan untuk ruang berpikir. Memberi ruang diskusi diri dalam suruhan. Memberi sayang dalam bentuk sabar dan marah. Meminta kadang-kadang, atau mungkin sering, tapi semoga kedepan memberi-memberi saja. Menuntutnya menjadi sempurna adalah mengingkari diri sendiri yang juga tidak. Dunia ini gabungan damai dan rusuh, baik dan kejam, dan semua hal yang kontras. Diantaranya ada rentang juga yang mewarnai. Semoga matamu bisa berwarna senantiasa, bukan hanya hitam dan putih. Pandangi dunia dari seluruh mata di tubuhmu, meskipun ia berbentuk telinga ataupun kulit.
Anak-anakku dan anak-anak lain sedunia, selamat jatuh lagi-sekali lagi-berkali-kali. Selamat mengulang tahun sampai nantinya tahun tak berulang lagi.
Bogor, 25 Juli 2025
Nihan Lanisy
Leave a Reply