hai trauma

siapapun, tak bisa lepas dari trauma, ia ada untuk dikenali, ditemani, dan didamaii. tapi proses itu panjang, namun apa salahnya mengusahakan.

kucing pernah mencakar muka saya saat saya masih SD. saya sedang kasih makan tapi malah saya dicakar. dalam diri saya terbentuk kredo “jangan deket-deket kucing, ia jahat”. sampai akhirnya anak-anakku suka kucing dan memelihara di rumah. dari takut lama-lama senang, namun setiap berhadapan dan bersentuhan, masih ada rasa takut hal itu akan terjadi. cakaran dan gigitan sayangnya masih belum bisa saya terima.

kemudian, setiap berkendara, rasa lelag saya mungkin sangat besar karena waspada. dua kejadian yang membuat saya takut: tersangkut kabel di pinggir jalan dan tertabrak motor dari belakang saat mau belok. keduanya ternyata masih sering muncul. ketika melihat orang-orang bisa berbahagia touring, saya lebih ke waspada. saya tidak suka jalanan, kecuali yang santai.

pelan-pelan saya coba pahami apa yang sedang terjadi. trauma-trauma mengemuka, ingin rasanya berdamai namun mungkin belum waktunya. kasih waktu dan kesempatan, keduanya adalah obatnya mungkin. ditambah dengan izin sang pemilik dunia ini.

pondok cabe, 9 mei 2026

nihan lanisy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *