buku let them

Di Gramedia, buku The Let Them Theory by Mel Robbins mendominasi di salah satu rak. Tentunya menarik perhatian, covernya seperti pada umumnya buku-buku self-help atau self-improvement.

Saya belum baca, tapi kata istri saya gausah beli, soalnya sudah menerapkan. Di dunia yang bising ini, ternyata buku ini jadi bestseller karena banyak orang yang belajar dan mendapat manfaat untuk “bodo amat” atau “fokus pada yang bisa dikontrol”. Mengingatkan juga pada buku warna oranye yang sempat menjadi megabestseller dalam judul indonesianya kurang lebih Sebuah Seni Bersikap Bodo Amat.

Pada dasarnya, filosofi let them itu adalah yang juga saya jalani. Bagaimana kita bisa membiarkan orang marah-marah karena kita tidak bisa mengontrolnya, kita cuma bisa mengontrol bagaimana diri kita menyikapinya? Mau ikut marah? Mau menjadi air saat ada api kemarahan? Mau pergi? Mau apa? Terserah kita.

Me-let atau membiarkan sesuatu apa adanya, saya latih juga dengan cara belajar menyukai gulma. Tanaman-tanaman yang tiba-tiba muncul, tentu bagi banyak orang mengganggu. Tapi saya coba untuk “let them” live dan menafsirkan ulang estetika dalam pikir dan hati saya. Ini semua masalah diri kita, bukan semua hal lain di luar kita.

Kita, manusia, saya percaya dalam kendali Allah, Tuhan YME. Setiap yang terjadi sudah ditakdirkan dan sudah dipastikan, namun bagaimana kita merespon kita bisa belajar. Nah, takdirmu mungkin pagi ini baca artikel ini, sehinggal belajar tentang hal ini.

Jika kita percaya bahwa semua yang datang itu takdirNya, tentu respon kita juga takdirNya. Jadi santai saja. Namun, belajar itu baru berhenti saat kita mati, walaupun saya juga belum tau apakah di dunia after dunia ini ada sekolahan atau les-lesan tidak untuk belajar lagi.

Setiap ada orang yang mencibirmu, biarkan aja, mereka gatau aslinya, mereka gatau sulitnya, dan sebagainya. Dan kamu tak perlu menjelaskan apa-apa. Biar saja cibirannya itu hanya lewat dan kita peluk. Kita tak perlu mencibir balik, sebab tak akan merubah cibirannya juga. Ini semua tentang visi dan misi, kita mau jadi seperti apa dan mau ngapain di dunia ini.

Kalau kita masih full, tidak jadi orang yang kosong a.k.a suwung, dunia ini isinya pertempuran dan kompetisi tiada henti. Tapi ketika semua sudah kosong, kita hanyalah onggokan daging diberi jiwa yang ditugasi untuk bergerak kemanapun Empunya menyuruh bergerak, berbicara apapun yang disuruh Empunya bicara. Kosong, tidak punya kepentingan politik, ekonomi, budaya, dll, sehingga semuanya itu tak apa-apa, semuanya ok.

Gitu mungkin, cape nulisnya. Biarin aja kalau orang-orang ngeriweuhin kita, kita gausah balas, kita biarkan semua keriweuhan itu datang dan kita peluk, supaya keriweuhan itu akhirnya bingung sendiri, tidak menemui tujuannya.

Stoic ya stoic, pas butuh ndak stoic ya jadilah ndak stoic. Ingat semua itu senjata/sarana bukan tujuannya. Lop. Duh nulis artikel ini ngerasa kayak udah orang bener aja, tapi daripada gaditulis ya, barangkali ada yang bisa ambil manfaat dari sini.

Salam dari jiwa yang diragai

Pondok Cabe, 21 Agustus 2026
Nihan Lanisy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *