Kisah Coca-Cola

Kemarin saya sempat ikut ngobrol-ngobrol dengan Pak Dirah, yang sudah pensiun, dan Bu Yuni, yang bulan depan pensiun. Beliau berdua bercerita tentang kemewahan dan kebiasaan minum coca-cola dijaman mudanya dahulu. Pak Dirah hampir tiap hari minum coca-cola, sampai-sampai kemarin sewaktu kami berkumpul beliau sudah tidak mau lagi minum teh manis yang dihidangkan. Bu Yuni, juga bercerita tentang seringnya beli coca-cola botol besar saat kumpul-kumpul, dan kumpul-kumpulnya sering.

Ternyata edukasi tentang bahaya minuman bergula tinggi seperti itu dulunya bisa dikatakan tidak ada. Saya ingat dikeluarga saya kalau ada perayaan minumnya softdrink, entah coca-cola. sprite, atau fanta. Alhamdulillah bapak ibu saya cukup concern tentang gula dan kebiasaan itu berangsur hilang. Kalau di rumah saya, rumah di Jawa, ada kebiasaan minum teh manis. Manisnya bukan setengah-setengah tapi betul-betul manis, karena ada istilah Nasgithel, panas legi kenthel. Namun sekarang gulanya sudah dikurangi juga, dan beberapa tahun belakangan sudah berkurang ke-legi-an-nya.

Alhamdulillah ya sekarang gula ini sudah cukup banyak edukasinya. Tapi ujiannya juga makin banyak, kalau jaman dulu cuma ada coca-cola+teman-temannya+teh botol sosro, sekarang semakin banyak. Yang seperti kratingdaeng dan ekstrajos sekarang semakin banyak jenisnya, Ale-ale dan teh gelas banyak saya lihat di tangan anak-anak yang jajan di warung-warung kompleks atau kampung.

Ternyata peluang jihad sangat terbuka lebar, sesederhana jadi pengingat untuk diri, keluarga, dan orang terdekat tentang bahaya terlalu banyak gula. Tentunya gula tidak bahaya, asalkan tidak berlebihan. Apa yang terjadi di hari ini adalah surplus gula.

Semoga Indonesia dan dunia seglobe sehat-sehat ya. Yang seimbang, ndak lebih ndak kurang.

Bogor, 4 Juni 2024
Nihan Lanisy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *