foto oleh Hubertina Karolina Ngarbingan

Ada satu momen yang membuat saya diam, terkejut, sambil merenung.

Pada suatu hari minggu yang terik. Saya, Mbak Nisa, dan Mbak Tina melipir ke Ummi Bakery yang terletak di ruko Perumahan Harmoni, Pondok Cabe. Kalau saya niatnya cuma mau minum es teh tarik, yang konon katanya enak. Namun karena satu dan lain hal, tiba-tiba di meja kami terhampar berbagai jenis makanan seperti tampak di foto.

Setelah selesai makan, saya sholat ashar disitu, Mbak Tina sepertinya ke toilet, dan Mbak Nisa pulang duluan sambil mbayarin dulu tagihan kami. Keesokan paginya, saya minta ditagih utang saya. Kok ternyata total tagihannya cuma 52ribu. Serius?

Ternyata memang benar. Harganya murah-murah. Kedai ini namanya Kedai Roti Ibu Saya, yang letaknya sebelahan sama Ummi Bakery. Di sebuah lemarinya terpampang sertifikat-sertifikat atas nama Helen Chu. Sepertinya itu nama sang Ibu pemilik kedai dan bakery ini.

Saya kaget sekali, harganya bahkan mungkin lebih murah daripada jajanan-jajajanan di Jogja. Untung, sudah pasti untung. Namun bagi saya kedai ini mengambil sedikit keuntungan saja sehingga semakin banyak orang yang bisa bahagia lewat makan dan minum.

Pikiran saya juga melayang ke tiap-tiap warung yang melayani karyawan-pegawai-buruh-tukang-dan-lain-lain. Tiap mall dan gedung tinggi, selalu punya tempat makan yang terjangkau untuk orang yang bekerja di dalamnya. Merekalah yang diperankan Tuhan untuk menopang kehidupan banyak orang.

Dalam perdagangan yang membantu tidak menyulitkan, selain mendapat uang sebagai pertukaran, sepertinya doa selalu dialirkan dari para pembeli.

Semoga selalu ada, celah untuk membantu orang lain dikesempitan rasa butuh dan ingin yang tak pernah usai.

Bogor, 21 Agustus 2022

Nihan Lanisy