
Selain gelap dan sepi, ternyata juga menyenangkan. Menyetir di ruas tol tertua di Indonesia sambil mendengarkan laguku sendiri berulang kali sambil mematikan AC yang terlalu dingin untuk pagi yang belum bermentari itu. 5.10, para pendamba senja masih punya waktu 12 jam lagi untuk tidur. Arah ke Bogor tentu lawan arah dari putaran jam kehidupan, lebih sepi dan tentram. Kebanyakan mobil tidak terburu.
Aku tidak bermaksud mempermainkan dengan ibadah sebelum panggilan. Ada pertimbangan jiwa yang membuat sebaiknya duluan deh, toh waktu juga relatif, yang mutlak adalah bayar pajak dan ngisi token listrik. Sudah 2x dalam 7 hari terakhir, adzan belum berkumandang tapi kewajiban sudah tunai, anti-riba.
Tiga tikungan sebelum rumah, aku terbayang, atau lebih tepatnya bayangnya yang datang sendiri. Pasti rumahku masih dikunci dan lagi-lagi aku harus memanjat pagar rumahku sendiri supaya terkesan dramatis. Kuketuk pintu, kupeluk istriku, kucium anakku yang masih tertidur (akan segera kususul nak). Tak sabar bercerita dengan mantan pacarku, karena aku baru tau banyak rumah tangga yang tak bercerita, terus ngapain berumah tangga ya. Dan aku juga baru tau akhir-akhir ini, kalau namanya tetap rumah tangga walaupun lantainya cuma 1, gaada tangganya. Minimal kita semua pernah main ular tangga, kecuali om Panji yang mainannya ular tapi gapake tangga.
Semua rahasia milikNya. Dibalik tirai variety show tebak-tebakan kita gapernah tau. Tikungan terakhir sebelum rumah, gang masih sepi. Suara dan aroma masakan tetangga, nuansa orang tua yang kesulitan menyuruh anaknya sekolah, dan seluruh ambiance (bokongnya ga sakit yang ini) dari kosmos (bukan ricecooker)
Hari ini aku shift sore. Hidup kok ga cape, seperti saat Bang Aris (Aristoteles) menanyakan pertanyaan iti pada batu bata dirumahnya. Kalau bingung mau ngapain hari ini, baca phi aja, kok ya ada angka 3.14dst itu.
Bogor, 23 Juli 2025
Nihan Lanisy
Leave a Reply to Lita Cancel reply